Saturday, April 14, 2012

Dunia Cermin

Jika melihat manusia dengan apa yang dipikirkanya bagaikan menyelam lautan yang tanpa dasar, lengkap dengan segala keindahan dan ancaman yang ada didalamnya. Saat sebuah pikiran muncul didalam benak seseorang, hanya dirinyalah yang mengetahui dengan pasti apa dan bagaimana sesungguhnya. Apakah sebuah ketulusan, keangkuhan, keakuan, kesombongan, atau bahkan sebuah pembuktian diri terhadap sesuatu, hanya manusia dan hati nuraninya yang mengetahuinya dengan pasti.

Tetapi apakah seseorang itu dapat jujur dengan dirinya sendiri apa dan bagaimana serta apa yang sesungguhnya yang dia inginkan?

Jika aku adalah seseorang yang dia cerminkan dalam sebuah dunia kaca yang penuh dengan keakuan, bisakah aku menempatkan seseorang disekitarnya seperti apa yang dia pikirkannya terhadap diri dia sendiri?

Bisakah aku menerima bahwa aku telah berbuat salah walau hanya untuk membuktikan bahwa aku suka, ingin memiliki, bahkan terlihat lebih dari dia yang ada disekitar aku? Bisakah aku menerima bahwa dia juga memiliki keinginan akan dia dan ruang yang ada di dunia cermin ini?

Jika dunia cermin ini menjadi sebuah buku yang suatu saat aku dapat membacanya kembali, bisakah aku menerima aku yang aku inginkan dengan dia dia yang ada disekitarku ternyata tidak seperti apa yang aku inginkan? Apakah aku hanya tinggal membalikkan cermin, memecahkannya atau bahkan membuangnya dan menggantikan dengan cermin seperti apa yang kita inginkan?

Bisakah aku mengakui dan menerima bahwa apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang tidak aku dan dia inginkan? Bahkan saat aku merasa aku lebih dari dia, menerima bahwa ternyata aku ternyata tidaklah lebih sebuah debu pun dari dia? Atau bisakah aku menerima bahwa aku memang tidak bisa menang atau bahkan kalah dari dia?

Dan jika ternyata saat ini aku membaca, merasakan dan memahami bahwa ada sesuatu pikiran bahwa aku tidaklah seperti apa yang aku rasakan saat ini, bisakah aku menjadi aku yang menerima aku seutuhnya?

Jika aku menjadi dan aku tiada. Maka aku menjadi dia, dan dia menjadi aku.


Catatan: ini hasil karya tahun 2010 lalu.

Menjadi Manusia Paranormal Apakah Sebuah Kebutuhan?

Ada satu milis yang sangat heboh mengenai penggalian bakat diri dalam bidang supranatural. Ada yang melalui penggunakan jimat atau amulet untuk berbagai keperluan, ada yang melalui mantra atau berbagai ritual, mengolah tenaga dalam, hingga menggunakan satu bagian dari sebagian kecil ajaran sebuah agama. Satu hal lagi, ada yang sibuk dengan membanggakan diri dengan kemampuan supranya, mengaku menjadi indigo, serta membuka mata ketiga untuk membuka gerbang kemampuan super lainnya. Dengan berbagai macam alasan, perlukah itu dilakukan?

Memang beberapa manusia terlahir sensitif, tetapi menurutku semua manusia mempunyai kata hati untuk menentukan pilihan dari apa yang ingin dia lakukan dalam hidup. Di luar konteks agama yang ada, menurutku dengan sikap kerja keras, berfikir positif, dan menjalankan semuanya dengan niat yang baik tanpa merugikan orang dan alam sudah cukup bagi manusia untuk menjalani hidupnya.

Penggalian potensi diri perlu dilakukan, tetapi memaksakan diri untuk menjadi sesuatu apalagi yang berbau supranatural akan menguras banyak energi dan materi yang mana semua itu dapat dia gunakan sebagai modal untuk berusaha agar mencapai apa yang dia inginkan.

Lalu ada pertanyaan lain, apa istimewanya diakui menjadi seorang Indigo? Mempunyai tingkat sensitif yang lebih tinggi dari orang pada umumnya juga bukanlah sesuatu hal yang patut dibanggakan jika dia menggunakannya untuk menonjolkan si ‘aku’ tanpa membantu orang lain. Apakah aku mendeskreditkan orang indigo? Tentu tidak, karena aku merasakannya sendiri dan tidak ada yang istimewa dengan itu semua.

Jika diberi kelebihan itu semua secara natural, apakah itu menjadi alasan menjadi istimewa di mata manusia lain? Karena sesungguhnya semua itu sama di hadapan Sang Pencipta, tidak ada keistimewaan bagi orang indigo atau orang yang mempunyai kemampuan supranatural. Dan akan menjadi lebih celaka lagi jika mereka menggunakan itu secara komersial. Dan yang lebih sulitnya lagi, mereka tumbuh subur karena memang mereka dicari orang yang tidak percaya diri dengan apa yang dia punya. Tentunya, ada suppy ada demand. Lalu, bagaimana dengan kebutuhan manusia untuk hidup?

Manusia itu semuanya dikaruniai kemampuan luar biasa untuk menggunakan otak, pikiran dan perasaannya untuk bertahan hidup dan membuat semua apa yang dia butuhkan. Hanya dibutuhkan tekad dan niat untuk berusahalah yang dapat membawa manusia keluar bumi dan menciptakan teknologi lainnya untuk menunjang aktifitas hidupnya.

Walau semua itu kembali ke diri kita sendiri untuk memilih bagaimana menjalani kehidupan di dunia ini, tidak ada salahnya untuk kita lebih mengenal diri sendiri dan lebih bijaksana untuk memilih serta tidak menggunakan apa yang kita punya untuk merugikan orang lain apapun alasannya.

Sejauh Apa Kita Mau Perduli?

Tidak ada yang salah untuk menjadi lebih kritis dan lebih perduli untuk hal yang ada di depan mata kita. Contohnya saja dengan penggunaan styrofoam dalam kemasan makanan. Hal ini awalnya terjadi saat aku memposting sebuah foto sungai yang permukaan airnya hampir tertutupi sampah Styrofoam. Lalu kakak kelasku ada yang bertanya, bagaimana dengan produk kemasan yang dipakai salah satu makanan Jepang cepat saji yang telah memberikan logo aman bagi lingkungan? Karena penasaran, akhirnya kuhabiskan beberapa waktu sore hari ini untuk menelaah informasi lebih lanjut mengenai bioplastik ini.

Setelah beberapa saat, terdapat banyak informasi mengenai sang bioplastik ini. Iseng punya jari-jari kritis ternyata website sang produsen pembuat kemasan yang dibuat tahun 2010 itu tidak ada info lebih lanjut selain masih dalam pengembangan tanpa ada informasi lebih detail. Hanya ada tulisan yang memberitahukan bahwa plastic ini dapat terurai beberapa tahun, dan ada catatan dibawahnya bahwa hal itu terjadi tergantung dari panas, tingkat intensitas cahaya matahari dan kelembaban. Cukupkah percaya hanya dengan ini?

Untukku, tentu saja tidak! Akhirnya aku kembali mencari informasi lebih lanjut mengenai bioplastik ini. Hingga pada satu ulasan website greenliving (http://www.greenlivingonline.com/article/truth-about-bioplastics) yang menerangkan bahwa jangan mudah percaya dengan apa kata tulisan pada produknya. Tetap saja banyak kondisi external yang dapat menjadi penghambat dari proses tersebut. Terlebih lagi, menurutku, sesuatu yang diciptakan itu, termasuk energi yang terkandung dalam satu benda, tidak dapat hilang begitu saja tanpa berubah menjadi sesuatu materi lain. Dengan catatan, tetap saja produk itu perlu satu proses untuk daur ulang.

Bisa jadi, peletakan logo tersebut adalah sebuah strategi marketing sebuah perusahaan dengan mengambil hati konsumen dengan logo ramah lingkungannnya. Sejauh apa kontribusi perusahaan, dengan konteks ini sang rumah makan cepat saji tersebut, untuk membantu proses daur ulang kotak makanan yang mereka gunakan? Terlebih lagi jika masih dengan mudahnya kita melihat sampah dan sisa bungkusan tersebut dibuang tercampur dengan sampah lainnya atau bahkan terlihat di sebuah sungai atau sudut yang jauh dari kategori tempat sampah yang akan didaur ulang?

Jadi, jangan cepat percaya dari sebuah logo ramah lingkungan. Jadilah lebih kritis atas apa yang ada didepan kita dan menjadi lebih perduli untuk memulai gaya hidup yang lebih ramah terhadap alam. Bukan mengikuti tren yang ada, tetapi perduli untuk membantu bumi tetap menjadi tempat hidup yang aman dan nyaman bagi kita semua hingga anak cucu.

Mengutip sebuah kalimat dalam buku Panduan Masyarakat untuk Kesehatan Lingkungan yang dikeluarkan oleh Hesperian, “Semua yang berasal dari bumi harus dikembalikan ke bumi, dan semua yang berasal dari pabrik harus dikembalikan ke pabrik”.

Sunday, April 8, 2012

Be pro and know the consequence

Mempunyai satu cita-cita bagi setiap orang itu boleh banget dan sah-sah saja. Tetapi jika terlalu terobsesi dengan cita-cita tersebut, bisa jadi itu senjata makan tuan bagi apa yang kita kerjakan sekarang.

Hal ini yang mulai banyak terlihat dari beberapa temanku di kantor yang sedang mengalami demam beasiswa. Situasi tersebut selalu mewarnai hari-hari sepanjang tahun di kantor tersebut. Bagaimana tidak, mulai dari Januari para kandidat ADS mulai tegang menghadapi ujian yang ada diujung mata sampai pada bulan Februari saat pengumuman dilakukan. Lalu bulan Maret akhir sudah ada lagi pengumuman pendaftaran hingga bulan Agustus, lalu Oktober diumumkan kandidat yang akan melakukan test pada bulan Januari. Dan itu berulang sepanjang tahun. Belum lagi beberapa pengumuman beasiswa lainnya sepeerti Nuffic – Neso, Aminef, Beasiswa Jerman, dan lain-lainnya.

Satu hal yang aku lihat, baik dari kandidat yang sukses dapat beasiswa sudah mulai terlihat malas-malasan walaupun waktu training dan keberangkatan masih sangat jauh, hingga bagi kandidat yang belum beruntung atau calon kandidat lainnya mulai kasak kusuk mencari info sekolah dan beasiswa lain di internet, hingga belajar bahasa Inggris di waktu produktif kerja. Itu belum terhitung beberapa orang yang terobsesi dengan hobi lainnya hingga sosial media yang selalu terupdate setiap jam ataupun menitnya. Hal itu terjadi tidak terkecuali pada staf junior hingga staf senior. Yang lebih mengagetkan lagi, pada sore hari atau akhir waktu deadline mereka terlihat sangat stress buru-buru mengerjakan pekerjaannya dan mengeluh pekerjaan tersebut sangat susah dan banyak sekali. Apakah itu sudah terlalu umum terjadi?

Aku tidak munafik jika bilang aku tidak seperti itu, hingga beberapa tahun terahir, mungkin 3-4 tahun setelah mereview kembali apa yang sudah dilakukan. Aku menemukan banyak ketidakpuasan dan hal yang tidak tercapai seperti apa yang diinginkan ternyata adalah hasil dari akibat ketidakefisienanku sendiri dalam bekerja dan berusaha atas apa yang aku inginkan. Akhirnya aku belajar untuk menerima konsekuensi dari apa yang aku harus lakukan di depan mata, dimana ada saatnya aku bekerja di kantor, saatnya harus membaca, saatnya belajar hal lain, atau kegiatan lainnya tanpa harus tumpang tindih dan mengganggu prosesnya satu sama lain. Dengan kata lain, aku tahu apa konsekuensi yang akan kudapati dari satu pekerjaan yang harus diselesaikan, termasuk menjadi lebih profesional untuk segala sesuatunya.

Belajar untuk mendisiplinkan waktu kapan harus memperdalam penguasaan bahasa inggris, kapan belajar menulis, kapan membuka facebook, kapan browsing informasi di internet, kapan bekerja di kantor, hingga membaca surat kabar di kantor. Jadi jangan harap melihat aku membuka facebook di jam kerja, karena aku sudah mempolakan waktu membuka Facebook di malam hari. Awalnya tidak gampang memang untuk mulai mengatur waktu dan mengontrol fokus pada satu waktu, tetapi jika dilakukan pelan-pelan dan konsisten serta persisten, aku rasa tidak ada yang tidak mungkin.

Satu hal lainnya, mempunyai seseorang yang selalu menyemangati apa yang kita lakukan itu sangat membantu dan memudahkan proses tersebut. Seseorang itu bisa pacar, sahabat, teman, saudara, atau bahkan orang tua. Saat pertengahan proses yang kadang membuat galau, dengan menceritakan secara jujur kepada seseorang dapat membantu dan menyegarkan kembali tekad untuk merubah kebiasaan tersebut. Tidak gampang, tetapi hal itu sangat berarti untuk mengubah kebiasaan yang ingin diubah. Bahkan saat aku merasa usaha yang dilakukan tidak membuahkan hasil, harus percaya dan sekali lagi, HARUS PERCAYA bahwa usaha sekecil apapun itu, dengan niat dan doa yang tulus, akan membuahkan hasil.

Berusaha menyadari semua konsekuensi apa yg ada di depan mata dan berusaha menjadi professional di hal terkecil pun, Alhamdulillah, akhirnya itu yang mengantarkan aku untuk menimba ilmu lebih tinggi lagi di negeri orang secara gratis.

Aku senang tetapi aku sadar konsekuensinya... aku harus berusaha sebaik mungkin untuk tantangan yang ada di depan mata dengan tetap menjadi profesional di kantor untuk menyelesaikan tugas-tugas sebaik yang aku dapat lakukan.

Satu – dua orang yang bertanya kepadaku bagaimana resepnya untuk berhasil mendapatkan beasiswa itu, sudah pula aku jelaskan resep sederhana ini, tetapi sejauh apa mereka memahaminya? Yah itu pilihan mereka sendiri bukan?

Tuesday, April 3, 2012

Berfikir Resep Makanan

Beberapa hari ini, saatku perhatikan, setiap sore pikiranku selalu tertuju pada sebuah proses memasak sebuah resep baru.

Seperti sore ini, yang terpikirkan olehku adalah sebuah resep membuat daging hamburger tetapi hanya menggunakan jamur, bawang bombai, telur, bumbu-bumbu, dan oat. Jadi terekam diotakku, ada semangkuk oat, lalu dimasukkan bawang bombai potong dadu kecil-kecil, telur, dan jamur tiram. Lalu dikasih bawang putih halus, garam, merica dan ketumbar halus. Diaduk hingga menyatu dan dibuat pipih lalu digoreng.

Penyajiannya bisa dimakan seperti sandwitch atau hamburger. Hmn... akan kucoba ah liburan weekend panjang ini.

Monday, March 19, 2012

Menghabiskan Satu Sore dengan Acara Sale

Beberapa hari yang lalu, atas ijin cowokku, aku bersama seorang teman kantor pergi ke sebuah departement store terkemuka yang sedang giat-giatnya promo great salenya. Secara naluriah, tanpa menghiraukan pegal-pegal abis lembur di kantor, aku keliling pertokoan tersebut.

Sesudah mengisi bahan bakar berupa es kopi di salah satu kafe coffee illy, langkah kami berdua bermula pada bagian koper-koper. Minggu lalu aku sudah membeli persiapan satu buah koper besar untuk keberangkatan Desember nanti, tetapi melihat sebanyak itu koper yang ada pada minggu diskon ini, mau tidak mau rasa antusiasku menyemangatiku untuk keliling ke lautan tas koper yang menarik hati tersebut. Kulirik satu tas yang menurutku rada 'cowok dan macho', tetapi kali ini perasaanku mantap untuk melakukan penghematan demi rencana kami untuk beberapa bulan mendatang.

Lalu bergerak ke bagian baju-baju. Perhatianku tertarik ke arah ke berbagai jenis blazer dengan berbagai model. Dengan cepat pikiranku menghapalkan model dari salah satu yang sangatku suka. Niatnya nanti mau menjahit model blazer tersebut dengan stok bahan batik yang ada. Setelah itu langkahku pelan-pelan mengitari area baju wanita hingga ke bagian pakaian dalam.

Temanku sempat menggodaku untuk segera membeli pakaian dalam untuk acara nikahan nanti. Hehehe malu juga tetapi senang juga temanku yang sudah kuanggap kakakku sendiri itu memberikan saran 'perempuan' kepadaku. Tetapi setelah menimbang dengan rencana yang sudah kubuat sebulan ini, aku masih menahan diri untuk memberi persiapan ini itu.

Temanku itu membeli cukup banyak barang pada sore hati itu. Walau niatnya mau membeli koper besar untuk persiapan Desember juga, malah membeli hal lain hehehe.... Alesannya, dia mau membeli koper sepertiku, Elle asli diskon yang cukup banyak dan berhadiah satu buah ransel cantik. Tetapi sejauh itu, acara sore hari itu sangat menyenangkan.

By the way, tahukah apa yang kubeli sepanjang sore itu? hanya dua buah celana dalam warna nge-jreng. Hahaha jadi inget seorang teman lama yang senangnya ke mall untuk membeli pakaian dalam. Gimana ya kabarnya dia sekarang? hihihi

Membeli Cinta

Kalimat tersebut merupakan salah satu judul yang sekilas terlihat dari enews yang kubaca pagi ini. Entah kenapa, pikiranku langsung tertuju kepada satu orang teman lama.

Temanku itu bukanlah orang yang jelek secara fisik walaupun memang sedikit gemuk dan tidak proposional. Tetapi rejekinya sangat baik, lantaran sekarang bekerja di sebuah bank terkenal dan sukses menjadi Relationship Manajer. Penghasilan mungkin cukup tinggi sehingga seumuranku telah bergelar master, dapat membeli apartemen di bilangan sudirman, mobil mewah dan sering plesir ke luar negeri (entahlah itu uang dari mana hehehe). Tapi kekurangan yang selalu dikeluhkannya adalah tidak ada cowok yang mencintai dia apa adanya.

Setidaknya sebagai teman yang lumayan dekat, aku sering mendapatkan curhatan mulai dari tiga mantan pacar hingga cowok terakhir ini yang menurutku sarat dengan penipuan karakter tingkat tinggi (cieh abissss gaya nulisnya). Untuk tiga mantan cowok terakhir, terlihat jelas bahwa para cowok tersebut memanfaatkan temanku itu dengan kelebihan materi. Bahkan mantan pacar yang terakhir sudah sering diajak plesir ke luar kota hingga ke pulau Bali. Bahkan sudah tersirat rencana untuk menikah, bahkan ada wacana dari temenku untuk mendongkrak karir cowok tersebut untuk membiayainya untuk mengambil sertifikasi ahli atau gelar masternya.

Sepanjang perjalanan pacaran mereka, setidaknya dua dia pergi ke kampung sang cowok di kota kecil luar Jakarta dan ke keluarganya yang lain yang ada di Jakarta. Keluarga cowoknya yang sangat sederhana sepertinya menaruh harapan tinggi agar cepat menikah. Tidak lama sang cowok sering komplen dengan ukuran badan temanku ini, bahkan menyuruh temanku untuk ikut program diet agar terlihat lebih kecil dan lebih cantik. Tidak lama berselang, temanku tahu bahwa mantan cowoknya itu selingkuh dibelakangnya, dengan segala fasilitas yang diberikannya, ke seorang perempuan yang jauh lebih cantik, lebih kurus, tetapi lebih ‘perempuan’. Tragedi tersebut bahkan membawa temanku itu berapi-api untuk melampiaskan emosinya hingga berfikir untuk mem-bully perempuan itu dengan kata-kata yang tidak menyenangkan.

Rasanya tidak adil jika aku tidak mengupas dari sisi karakter temanku ini. Aku mengenalnya sudah sangat lamaaa sekali. Baik sifat baiknya hingga sifat buruknya bahkan cowokku sudah mewanti-wanti untuk tidak terlalu dekat dengannya. Tipenya adalah cewek yang mau terlihat lebih dari orang lain, baik teman-teman terdekatnya. Maunya semua temannya tergantung kepadanya karena dia yang satu-satunya yang membawa mobil dari masa sekolah. Pokoknya ’gw musti jd center of interest!’. Selain itu dia selalu memandang kesuksesan itu dilihat dari sebanyak apa materi yang dipunyai. Dulu dia pernah make a wish untuk mempunyai cowo yang badannya bagus, mengendarai Honda Jazz, dan memberikan dia cincin berlian. Hahaha.. bayangkan itu dia ucapkan pada saat masa akhir kuliah. Dan yang paling menggenaskan adalah dia senang sekali terlihat dominan dari temannya dan bahkan cowoknya. Jadi terkadang aku merasa, cowoknya itu hanyalah sesosok orang yang menyandang status pacar atau suami saja jadinya. Dulu pernah saat dia drop abis karena diputuskan oleh pacar-pacarnya karena selalu ada wanita idaman lain, aku ingat dia pernah menangis mengatakan bahwa dia hanya perlu anak dari pasangannya.

Perlu dicatat, gaya hidupnya sangat-sangat tidak sehat, perokok tangguh, peminum alkohol dan turunannya secara sadar, doyan dugem hingga jackpot (tahukan jackpot? Kata temenku yang lain, saat lagi dugem buka buka botol wine/beer trus mabok sampe muntah) serta makanan yang tidak sehat. Seumur aku ini, dia pernah operasi tumor di payudara akibat gaya hidupnya yang ajaib itu. Dapat bonus, langsung dugem dan buka botol rame-rame. Tetapi, dibalik semua sifatnya itu, sebenarnya dia anak yang cukup baik (awal aku berteman dengannya, tetapi drastis berubah pada saat sekarang) dan sangat kesepian. Sebagai teman lamanya, aku akan bersikap baik apapun kondisi dia sejauh tidak membawa pengaruh buruk buatku. Cowokku pernah berpesan, aku harus waspada dengan gaya hidupnya, dan jangan terjebak untuk masalah narkoba atau miras yang mungkin melekat padanya.

Setelah hampir tertipu dengan cowok asing yang suka minta transfer uang, akhirnya ada satu cowok made in luar negeri juga yang berhasil membuat temanku itu klepek-klepek. Setelah membuktikan diri dengan datang ke indonesia *atas dana temanku itu* dan menginap 1 bulan di apartemennya bersama teman senegaranya dengan membawa pacarnya dari negara lain *ee.. aku nda mau komentar apa-apa tentang hal ini*, semakin membuat temanku itu cinta mati dengan tu cowok bule. Setelah itu, temanku mengirimkan uang untuk membeli motor bekas di negaranya cowok itu untuk menunjang pekerjaannya sebagai penjaga fitness center milik kakaknya (Did I have mention that he is only high school graduate?). Entah barang apa yang sudah dibelikan oleh temenku itu, setahuku mulai dari smartphone, sepatu olah raga mahal, entah apa lagi.

Akhir tahun kemarin temanku itu curhat kepadaku bahwa adiknya mau menikah dipertengahan tahun ini. Karena dia tidak mau dilangkahi adeknya itu, dia mulai mendesak sang cowok itu untuk segera menikahnya dan menikah sebelum adeknya itu. Dimulai untuk mengurus surat keterangan penceraian dengan istrinya di negeri asalnya (hmn katanya cowok ini katanya ditinggal oleh istrinya, hidup terpisah tetapi belum bercerai). Prosesnya pun sedikit membuatku kaget karena dengan mudahnya temanku itu menyuruh ini itu, terkesan mendikte menurutku. Aku tidak bertanya siapa yang membiayai semuanya, hahaha.. males banget nanyanya. Dan dia tidak melihat dari sisi orang tua yang terpaksa menikahkan kedua anaknya dalam satu tahun dan hanya berselisih 3 minggu saja. Terbayang olehku bagaimana repot dan lelahnya kedua orangtunya itu dan seberapa banyak uang yang dikeluarkan untuk kedua acara pernikahan itu. Setahu aku, temenku itu malah tidak membantu sepersen pun untuk acara nikahan, tetapi meminta dua kali acara, di rumah dan di gedung, dan biaya untuk honeymoon. Alesannya, itu kan tugasnya orang tua (gubrak.. rasanya aku mo pingsan pas mendengar itu, sungguh!).

Setelah proses ini itu terlalui, akhirnya sang cowo datang lagi ke Indonesia (tidak tahu dengan modal siapa, hehehe), dengan membawa cincin berlian yang cukup besar (sebesar yang dipakai Bosku yang super kaya sepanjang hidupnya, jadi aku mulai bertanya-tanya apakah itu asli? Hahaha), meminta secara langsung ke orang tuanya temenku dan diperkenalkan ke seluruh keluarga besar. Selama 1 bulan lebih ini dia disini, tentu saja semuanya di-service oleh temanku itu. Satu apartemen berdua saja (Well, no comment dengan hal ini juga walau katanya sang cowo itu keagamaannya sangat kuat).

Yang membuatku terkaget lagi adalah sikap temanku yang cukup ajaib, tetap dengan gayanya yang bossy menyuruh suaminya ini itu. Bukan masalah dia menyuruhnya tetapi dari caranya menyuruh yang tidak terkesan seorang calon istri ke pada calon suaminya. Bagiku, suami adalah imam keluarga, dia yang akan memimpin keluargaku, walau kita berdua sepakat untuk memposisikan diri untuk saling bekerja sama tanpa ada seseorang merasa dibawah. Dan yang sangat mengejutkan lagi, sikap cowonya yang mau saja disuruh ini itu. Setahuku, pride of the self seorang laki-laki apa lagi keturunan arab sana sangatlah tinggi.

Menurut pendapat pribadiku, cowok ini antara memang sifatnya yang lemah atau dia hanya berpura-pura pada saat ini. Takutnya setelah menikah, baru sifat aslinya keluar. Menurut bocoran dari temenku itu, rencana hidup mereka nanti adalah temenku yang bekerja dan cowok itu di rumah, dikasih waktu 2 tahun untuk melihat peluang kerja di Indonesia untuk mencari uang. Kata temanku itu, dia akan mengumpulkan pundi-pundi uang selama 2 tahun itu. Tahukah waktu aku mendengarkan dia menyebutkan kata ”pundi-pundi uang” itu, aku merinding dan langsung terbayang prilaku meminta uang kepada nasabah dia semakin merajalela.

Sungguh, aku sendiri menjadi tidak tega untuk berlama-lama dekat temanku itu. Secara tidak tahan untuk menceramahi dia, tetapi sebagai teman lamanya sudah berapa kali disampaikan kepadanya untuk berhati-hati terhadap apa yang dia putuskan. Sempat satu pertengkaran rada sengit saat dia menaruh status YM ”My way is Your Will”. Menurutku, apapun yang dia pilih untuk lakukan sesuatu bukanlah karena Tuhan yang menentukan. Itu pilihan dia murni. Sebelumnya dia sudah diberikan mimpi ini itu, bahkan banyak pertanda yang mengisyaratkan agar berhati-hati, tetapi mata hati dia seperti sudah dibutakan. Takutnya nanti jika semua yang dia hadapi tidak seperti yang dia inginkan, dia akan menyalahkan Tuhan sepenuhnya.

Sesungguhnya aku tidak ingin membeberkan kejelekan teman sendiri, tetapi yang kuinginkan adalah memberikan contoh pelajaran bahwa tidak baik untuk membeli cinta jika ingin mempunyai pacar yang serius bahkan untuk mencari suami. Tidak hanya untuk menghindari diri untuk mengemis cinta, juga jangan pernah membeli cinta terutama sebagai kaum perempuan. Bagi yang belum menemukan cinta, jangan pernah putus berdoa agar tidak dibutakan mata hati untuk berfikir jernih. Bersyukurlah apa yang sudah dipunyai dan bersabarlah bagi hal-hal yang belum terwujud.

Seperti kata cowokku beberapa waktu lalu, tidak ada doa dan usaha yang sia-sia selama motivasinya untuk memberikan kebaikan dan segalanya akan indah pada waktunya.

*ah so sweeeetttttt hihihi* Trims Sayang.