Sebuah deskripsi dari apa aja yang dirasa, dilihat dan harapan dalam sebuah kubikel kecil sebuah lentera dalam kegelapan
Thursday, June 20, 2013
Terima kasih untuk selalu ada disampingku
Saturday, February 23, 2013
New Day and New Challenges
Wednesday, December 26, 2012
Memutuskan untuk Melakukan Perubahan
Suami? well,... sudah lebih dari 2 minggu aku dan suamiku kini mengikrarkan janji sehidup semati. Sebuah momen yang kita tunggu-tunggu selama lebih dari 4 tahun, akhirnya terwujud. Walau dengan rencana yang jauh dari yang kami persiapkan sebelumnya.
Perubahan. Yup, perubahan yang sangat berbeda ini, adalah sebuah komitmen jangka panjang, bahkan keinginan kami, untuk seumur hidup, adalah sebuah awal dari segala-galanya. Bukan karena menikah karena aku akan meninggalkan tanah air untuk waktu tidak bisa dibilang sebentar, ataukah menikah karena aku ingin sekali keluar dari lingkungan rumah yang sudah menyesakkan hati itu, tetapi menikah untuk memulai hidupku dan hidup suamiku dengan apa yang kita berdua impikan sejak pertama membuat komitmen untuk menjalin hubungan lebih serius dari sekedar berteman.
Sebuah perubahan drastis, dari aku yang bebas menentukan segala sesuatu yang ingin aku lakukan terhadap hidupku, menjadi sebuah komitmen berdua dimana semua hal yang akan dilakukan adalah demi kebaikan dan keinginan kita berdua. Aku yang dulu tentunya sudah berakhir, dan kini berlanjut menjadi aku dalam kami yang akan hidup dan beraktifitas untuk keluarga tanpa menepikan pandangan, visi, dan tujuan yang dulu aku inginkan sebelum menikah.
Menikah bukanlah judi yang masih menebak kemana arah akan membawa, karena jika melenceng dari arah kebahagiaan yang kita impikan, banyak orang yang kemudian menyerah di tengah jalan. Bukan pula menikah hanya untuk melengkapi tujuan hidup kita agar menjadi lebih sempurna, tanpa tahu takaran kesempurnaan mana yang digunakan. Tetapi bagiku, menikah, adalah keputusan yang secara sadar aku dan suamiku inginkan untuk membuat cerita kami berdua menjadi lebih berwarna dan bermakna untuk kami berdua, dan anak-anak kami kelak, serta makhluk hidup di sekitar kami. Kami yang merencanakannya sehingga kemana bahtera ini pergi, kami akan berusaha untuk menjadi pelautnya, tanpa harus menurunkan sauh atau merapat ke tepian.
Karena, segala keputusan yang kita lakukan harus siap dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi, tanpa harus menyalahkan takdir atau Tuhan yang menjadikan hidup menjadi tidak nyaman untuk dilalui.
Dan aku bersyukur, segala sesuatu yang kami niatkan, menjadi lebih mudah, sehingga kami juga akan dapat memudahkan orang lain pula untuk mendapatkan impian yang mereka inginkan.
Wednesday, October 17, 2012
Ujian Itu Adalah Bagaimana Berhadapan Dengan Diri Sendiri
Masalahnya adalah seberapa banyakkah kita mau jujur dengan diri sendiri dan berkata pada cermin yang ada di depan sana, "Halo Sahabat, mari kita hadapi semua ujian itu dengan suka cita".
Saturday, April 14, 2012
Manusia dan Alam Pikirannya
Jika sebuah kalimat ini yang menjadi pekerjaan rumah dalam beberapa tahun ini, lalu sampai dimanakah informasi yang didapat? Jika pernyataan ini menjadi sebuah pertanyaan, sejauh apa aku menemukan jawabannya?
Langkah awal yang mungkin aku lakukan adalah meletakkan semua apa yang kupikirkan atas sesuatu dan berdiri ditengah kesunyian sambil terdiam. Diam dalam kedalaman hati untuk mencari tahu, siapakah aku?
Dapatkah aku melihat diriku sendiri secara jujur tanpa adanya pembenaran yang selama ini membentengiku? Menerima bahwa aku baik, aku jahat, aku cantik, aku buruk rupa, aku berbohong, aku jujur, aku hebat, aku pecundang, aku terkenal, aku terkucilkan, aku, aku, dan segala apa yang aku pikirkan selama ini.
Bahkan saat aku memberikan penilaian terhadap orang lain disekitarku, untuk orang yang aku cintai, aku benci, aku hormati, aku hina, aku senangi, aku jahati, dan segala yang aku pikirkan terhadap seseorang selama ini. Bisakah aku menjadi aku tanpa aku yang memberikan penilaian terhadap aku, orang lain bahkan terhadap sesuatu yang ada.
Lalu dengan aku dan apa yang aku inginkan. Menerima bahwa apa yang aku inginkan tidak dapat aku dapati, juga apa yang telah aku dapati dan apa yang aku inginkan lagi. Aku dan apa yang aku inginkan, bagaikan jaring yang mengurung hati dengan keinginan-keinginan dalam aku dan orang lain. Bisakah aku menerima atas semua dari apa yang telah ada saat ini dengan rasa syukur dan tanpa penilaian apapun?
Aku dan pikiranku bagaikan sebuah buku dengan lembar tanpa batas dan seorang penulis yang selalu siap dengan pena ditangannya. Yang akan bergerak terus dalam waktu dalam pikiran dan rasa. Bisakah aku menerima tanpa semua itu dan menelanjangi diriku dengan apa yang selama ini melekat ditubuhku? Menjadi aku tanpa apa-apa dan aku tanpa alam pikiran, alasan dan penilaianku atas apa pun.
Jika orang menyebutkan bahwa itu aku mati dan tiada, apakah aku dapat menyadari bahwa semua itu tidak ada apa-apanya. Hampa, nol, atau nihil.
Beranikah diriku melihat aku apa adanya, tidak ada apa-apa, dan bukan siapa-siapa?
Dunia Cermin
Jika melihat manusia dengan apa yang dipikirkanya bagaikan menyelam lautan yang tanpa dasar, lengkap dengan segala keindahan dan ancaman yang ada didalamnya. Saat sebuah pikiran muncul didalam benak seseorang, hanya dirinyalah yang mengetahui dengan pasti apa dan bagaimana sesungguhnya. Apakah sebuah ketulusan, keangkuhan, keakuan, kesombongan, atau bahkan sebuah pembuktian diri terhadap sesuatu, hanya manusia dan hati nuraninya yang mengetahuinya dengan pasti.
Tetapi apakah seseorang itu dapat jujur dengan dirinya sendiri apa dan bagaimana serta apa yang sesungguhnya yang dia inginkan?
Jika aku adalah seseorang yang dia cerminkan dalam sebuah dunia kaca yang penuh dengan keakuan, bisakah aku menempatkan seseorang disekitarnya seperti apa yang dia pikirkannya terhadap diri dia sendiri?
Bisakah aku menerima bahwa aku telah berbuat salah walau hanya untuk membuktikan bahwa aku suka, ingin memiliki, bahkan terlihat lebih dari dia yang ada disekitar aku? Bisakah aku menerima bahwa dia juga memiliki keinginan akan dia dan ruang yang ada di dunia cermin ini?
Jika dunia cermin ini menjadi sebuah buku yang suatu saat aku dapat membacanya kembali, bisakah aku menerima aku yang aku inginkan dengan dia dia yang ada disekitarku ternyata tidak seperti apa yang aku inginkan? Apakah aku hanya tinggal membalikkan cermin, memecahkannya atau bahkan membuangnya dan menggantikan dengan cermin seperti apa yang kita inginkan?
Bisakah aku mengakui dan menerima bahwa apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang tidak aku dan dia inginkan? Bahkan saat aku merasa aku lebih dari dia, menerima bahwa ternyata aku ternyata tidaklah lebih sebuah debu pun dari dia? Atau bisakah aku menerima bahwa aku memang tidak bisa menang atau bahkan kalah dari dia?
Dan jika ternyata saat ini aku membaca, merasakan dan memahami bahwa ada sesuatu pikiran bahwa aku tidaklah seperti apa yang aku rasakan saat ini, bisakah aku menjadi aku yang menerima aku seutuhnya?
Jika aku menjadi dan aku tiada. Maka aku menjadi dia, dan dia menjadi aku.
Catatan: ini hasil karya tahun 2010 lalu.
Menjadi Manusia Paranormal Apakah Sebuah Kebutuhan?
Ada satu milis yang sangat heboh mengenai penggalian bakat diri dalam bidang supranatural. Ada yang melalui penggunakan jimat atau amulet untuk berbagai keperluan, ada yang melalui mantra atau berbagai ritual, mengolah tenaga dalam, hingga menggunakan satu bagian dari sebagian kecil ajaran sebuah agama. Satu hal lagi, ada yang sibuk dengan membanggakan diri dengan kemampuan supranya, mengaku menjadi indigo, serta membuka mata ketiga untuk membuka gerbang kemampuan super lainnya. Dengan berbagai macam alasan, perlukah itu dilakukan?
Memang beberapa manusia terlahir sensitif, tetapi menurutku semua manusia mempunyai kata hati untuk menentukan pilihan dari apa yang ingin dia lakukan dalam hidup. Di luar konteks agama yang ada, menurutku dengan sikap kerja keras, berfikir positif, dan menjalankan semuanya dengan niat yang baik tanpa merugikan orang dan alam sudah cukup bagi manusia untuk menjalani hidupnya.
Penggalian potensi diri perlu dilakukan, tetapi memaksakan diri untuk menjadi sesuatu apalagi yang berbau supranatural akan menguras banyak energi dan materi yang mana semua itu dapat dia gunakan sebagai modal untuk berusaha agar mencapai apa yang dia inginkan.
Lalu ada pertanyaan lain, apa istimewanya diakui menjadi seorang Indigo? Mempunyai tingkat sensitif yang lebih tinggi dari orang pada umumnya juga bukanlah sesuatu hal yang patut dibanggakan jika dia menggunakannya untuk menonjolkan si ‘aku’ tanpa membantu orang lain. Apakah aku mendeskreditkan orang indigo? Tentu tidak, karena aku merasakannya sendiri dan tidak ada yang istimewa dengan itu semua.
Jika diberi kelebihan itu semua secara natural, apakah itu menjadi alasan menjadi istimewa di mata manusia lain? Karena sesungguhnya semua itu sama di hadapan Sang Pencipta, tidak ada keistimewaan bagi orang indigo atau orang yang mempunyai kemampuan supranatural. Dan akan menjadi lebih celaka lagi jika mereka menggunakan itu secara komersial. Dan yang lebih sulitnya lagi, mereka tumbuh subur karena memang mereka dicari orang yang tidak percaya diri dengan apa yang dia punya. Tentunya, ada suppy ada demand. Lalu, bagaimana dengan kebutuhan manusia untuk hidup?
Manusia itu semuanya dikaruniai kemampuan luar biasa untuk menggunakan otak, pikiran dan perasaannya untuk bertahan hidup dan membuat semua apa yang dia butuhkan. Hanya dibutuhkan tekad dan niat untuk berusahalah yang dapat membawa manusia keluar bumi dan menciptakan teknologi lainnya untuk menunjang aktifitas hidupnya.
Walau semua itu kembali ke diri kita sendiri untuk memilih bagaimana menjalani kehidupan di dunia ini, tidak ada salahnya untuk kita lebih mengenal diri sendiri dan lebih bijaksana untuk memilih serta tidak menggunakan apa yang kita punya untuk merugikan orang lain apapun alasannya.