Thursday, June 20, 2013

Terima kasih untuk selalu ada disampingku



Apakah arti sebuah kerinduan,
jika sebuah janji melambangkan sebuah keinginan agar aku menjadi senang?
Lalu apakah artinya kehilangan,
jika duka melambangkan kehampaan karena aku merasa kosong?

Bahkan ketika genggaman tangan itu tetap kokoh memberikan rasa aman,
Dan senyuman itu memberikan kekuatan untuk tetap dapat memberikan kabar kepada dunia bahwa aku ada,
Lalu, kemanakah dirinya yang tidak pernah berhenti untuk memberikan rasa percaya kepadaku untuk menjadikan aku yang ku mau?

Bahkan api akan memperlihatkan merah yang membara,
Dan angin akan menggambarkan guratan halus pada pasir putih yang damai.
Apakah aku hanya akan selalu berkaca?

Apakah aku dapat membuatnya tetap tangguh untuk menapaki jalanan terjal yang dia pilih?
Apakah genggaman tangan ini dapat membuat keluhnya menjadi sebuah cerita yang menarik?
Apakah nafas ini dapat memberinya ruh untuk selalu menjaga setiap langkahnya?

Dan apakah kerinduan ini dapat membuatnya tersenyum bahagia saat melupakan banyak waktu yang telah hilang diantara aku dan dia?
Karena setiap waktu yang hilang tidak akan pernah kembali,
Dan hanya akan mengurangi cerita dan waktu yang tersisa antara kita.

Terima kasih untuk selalu ada disampingku.

I have loved you for thousand years, and I love you for thousand more…
 

Saturday, February 23, 2013

New Day and New Challenges

Finally, I'm in Brisbane now. Starting a new day and setting new goals of my life. In these few months were very busy and many things are changed. I am married now with my lovely husband and I have to leave him and my job for one and half year to continue my study.



Living far away from my husband is not as easy as I though before. Frankly to say, there are many harassment and it was very easy to be fixated. But, it depends on the personality of oneself. If the woman likes to tease other men, she will take advantages from them. For an easy example, there is a woman who is beautiful and she realized of her beauty and loved to use it to get anything what she wants. I have seen that happened and sometimes I could not understand why men, especially a married one, can let it happened on them. Or they think they can take advantages too from this type of women.

Another thing that I feel is sometimes I found the other personality of my friends that very annoying, like stubborn and egoist. Once I had experienced that my plans in that day are ruined because of the unpunctual friend. I had to wait for them and spent much time useless. Like this morning experience, we have a deal to go to the new mall together directly after going to the market and just before we go to the market, one of them said she did not want to go to the market. Then we had to go home again before going to the mall because her who is still want to go the mall. After we arrived from market, she was still not ready to go and needed to take a bath first whereas we told her to get ready while we were in the market. After that, I canceled to join with them because the mall was very far from our home and it will close earlier every Saturday. And my feeling was true, they still did not arrived until 10 pm. That is why I do not want to rely on any friends in any circumstances.

Unfortunately, I live with those kinds of friends at least for the next one year and I’m trying hard to stick on my goals to put them aside and trying not to be influenced by them.

Wednesday, December 26, 2012

Memutuskan untuk Melakukan Perubahan

Tidak terasa, setelah sekian puluh hari, atau mungkin ratusan, aku baru mempunyai waktu untuk update blog ini. Setelah menunggu suami tidur, barulah aku beranjak ke ruang duduk tengah, dengan segelas kunyit asam hangat, mulai mengetik satu-satu kata di laptop kesayanganku ini.

Suami? well,... sudah lebih dari 2 minggu aku dan suamiku kini mengikrarkan janji sehidup semati. Sebuah momen yang kita tunggu-tunggu selama lebih dari 4 tahun, akhirnya terwujud. Walau dengan rencana yang jauh dari yang kami persiapkan sebelumnya.

Perubahan. Yup, perubahan yang sangat berbeda ini, adalah sebuah komitmen jangka panjang, bahkan keinginan kami, untuk seumur hidup, adalah sebuah awal dari segala-galanya. Bukan karena menikah karena aku akan meninggalkan tanah air untuk waktu tidak bisa dibilang sebentar, ataukah menikah karena aku ingin sekali keluar dari lingkungan rumah yang sudah menyesakkan hati itu, tetapi menikah untuk memulai hidupku dan hidup suamiku dengan apa yang kita berdua impikan sejak pertama membuat komitmen untuk menjalin hubungan lebih serius dari sekedar berteman.

Sebuah perubahan drastis, dari aku yang bebas menentukan segala sesuatu yang ingin aku lakukan terhadap hidupku, menjadi sebuah komitmen berdua dimana semua hal yang akan dilakukan adalah demi kebaikan dan keinginan kita berdua. Aku yang dulu tentunya sudah berakhir, dan kini berlanjut menjadi aku dalam kami yang akan hidup dan beraktifitas untuk keluarga tanpa menepikan pandangan, visi, dan tujuan yang dulu aku inginkan sebelum menikah.

Menikah bukanlah judi yang masih menebak kemana arah akan membawa, karena jika melenceng dari arah kebahagiaan yang kita impikan, banyak orang yang kemudian menyerah di tengah jalan. Bukan pula menikah hanya untuk melengkapi tujuan hidup kita agar menjadi lebih sempurna, tanpa tahu takaran kesempurnaan mana yang digunakan. Tetapi bagiku, menikah, adalah keputusan yang secara sadar aku dan suamiku inginkan untuk membuat cerita kami berdua menjadi lebih berwarna dan bermakna untuk kami berdua, dan anak-anak kami kelak, serta makhluk hidup di sekitar kami. Kami yang merencanakannya sehingga kemana bahtera ini pergi, kami akan berusaha untuk menjadi pelautnya, tanpa harus menurunkan sauh atau merapat ke tepian.

Karena, segala keputusan yang kita lakukan harus siap dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi, tanpa harus menyalahkan takdir atau Tuhan yang menjadikan hidup menjadi tidak nyaman untuk dilalui.

Dan aku bersyukur, segala sesuatu yang kami niatkan, menjadi lebih mudah, sehingga kami juga akan dapat memudahkan orang lain pula untuk mendapatkan impian yang mereka inginkan.

Wednesday, October 17, 2012

Ujian Itu Adalah Bagaimana Berhadapan Dengan Diri Sendiri

Untuk menghadapi ujian IELTS beberapa hari ke depan, aku baru menyadari bahwa selama ini, ujian yang aku maksudkan adalah bagaimana berhadapan dengan diri sendiri. Mau seberapa lama waktu persiapan yang ditempuh, selama belum dapat menghadapi perasaan sendiri, semua waktu itu akan menjadi tidak efektif. Tetapi jika diri sudah bisa berdamai dengan kata hari, dengan perasaan dan akal pikiran yang ada, waktu semalam pun dapat memindahkan gunung ke pulau seberang.

Masalahnya adalah seberapa banyakkah kita mau jujur dengan diri sendiri dan berkata pada cermin yang ada di depan sana, "Halo Sahabat, mari kita hadapi semua ujian itu dengan suka cita".

Saturday, April 14, 2012

Manusia dan Alam Pikirannya

Jika sebuah kalimat ini yang menjadi pekerjaan rumah dalam beberapa tahun ini, lalu sampai dimanakah informasi yang didapat? Jika pernyataan ini menjadi sebuah pertanyaan, sejauh apa aku menemukan jawabannya?

Langkah awal yang mungkin aku lakukan adalah meletakkan semua apa yang kupikirkan atas sesuatu dan berdiri ditengah kesunyian sambil terdiam. Diam dalam kedalaman hati untuk mencari tahu, siapakah aku?

Dapatkah aku melihat diriku sendiri secara jujur tanpa adanya pembenaran yang selama ini membentengiku? Menerima bahwa aku baik, aku jahat, aku cantik, aku buruk rupa, aku berbohong, aku jujur, aku hebat, aku pecundang, aku terkenal, aku terkucilkan, aku, aku, dan segala apa yang aku pikirkan selama ini.

Bahkan saat aku memberikan penilaian terhadap orang lain disekitarku, untuk orang yang aku cintai, aku benci, aku hormati, aku hina, aku senangi, aku jahati, dan segala yang aku pikirkan terhadap seseorang selama ini. Bisakah aku menjadi aku tanpa aku yang memberikan penilaian terhadap aku, orang lain bahkan terhadap sesuatu yang ada.

Lalu dengan aku dan apa yang aku inginkan. Menerima bahwa apa yang aku inginkan tidak dapat aku dapati, juga apa yang telah aku dapati dan apa yang aku inginkan lagi. Aku dan apa yang aku inginkan, bagaikan jaring yang mengurung hati dengan keinginan-keinginan dalam aku dan orang lain. Bisakah aku menerima atas semua dari apa yang telah ada saat ini dengan rasa syukur dan tanpa penilaian apapun?

Aku dan pikiranku bagaikan sebuah buku dengan lembar tanpa batas dan seorang penulis yang selalu siap dengan pena ditangannya. Yang akan bergerak terus dalam waktu dalam pikiran dan rasa. Bisakah aku menerima tanpa semua itu dan menelanjangi diriku dengan apa yang selama ini melekat ditubuhku? Menjadi aku tanpa apa-apa dan aku tanpa alam pikiran, alasan dan penilaianku atas apa pun.

Jika orang menyebutkan bahwa itu aku mati dan tiada, apakah aku dapat menyadari bahwa semua itu tidak ada apa-apanya. Hampa, nol, atau nihil.

Beranikah diriku melihat aku apa adanya, tidak ada apa-apa, dan bukan siapa-siapa?

Dunia Cermin

Jika melihat manusia dengan apa yang dipikirkanya bagaikan menyelam lautan yang tanpa dasar, lengkap dengan segala keindahan dan ancaman yang ada didalamnya. Saat sebuah pikiran muncul didalam benak seseorang, hanya dirinyalah yang mengetahui dengan pasti apa dan bagaimana sesungguhnya. Apakah sebuah ketulusan, keangkuhan, keakuan, kesombongan, atau bahkan sebuah pembuktian diri terhadap sesuatu, hanya manusia dan hati nuraninya yang mengetahuinya dengan pasti.

Tetapi apakah seseorang itu dapat jujur dengan dirinya sendiri apa dan bagaimana serta apa yang sesungguhnya yang dia inginkan?

Jika aku adalah seseorang yang dia cerminkan dalam sebuah dunia kaca yang penuh dengan keakuan, bisakah aku menempatkan seseorang disekitarnya seperti apa yang dia pikirkannya terhadap diri dia sendiri?

Bisakah aku menerima bahwa aku telah berbuat salah walau hanya untuk membuktikan bahwa aku suka, ingin memiliki, bahkan terlihat lebih dari dia yang ada disekitar aku? Bisakah aku menerima bahwa dia juga memiliki keinginan akan dia dan ruang yang ada di dunia cermin ini?

Jika dunia cermin ini menjadi sebuah buku yang suatu saat aku dapat membacanya kembali, bisakah aku menerima aku yang aku inginkan dengan dia dia yang ada disekitarku ternyata tidak seperti apa yang aku inginkan? Apakah aku hanya tinggal membalikkan cermin, memecahkannya atau bahkan membuangnya dan menggantikan dengan cermin seperti apa yang kita inginkan?

Bisakah aku mengakui dan menerima bahwa apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang tidak aku dan dia inginkan? Bahkan saat aku merasa aku lebih dari dia, menerima bahwa ternyata aku ternyata tidaklah lebih sebuah debu pun dari dia? Atau bisakah aku menerima bahwa aku memang tidak bisa menang atau bahkan kalah dari dia?

Dan jika ternyata saat ini aku membaca, merasakan dan memahami bahwa ada sesuatu pikiran bahwa aku tidaklah seperti apa yang aku rasakan saat ini, bisakah aku menjadi aku yang menerima aku seutuhnya?

Jika aku menjadi dan aku tiada. Maka aku menjadi dia, dan dia menjadi aku.


Catatan: ini hasil karya tahun 2010 lalu.

Menjadi Manusia Paranormal Apakah Sebuah Kebutuhan?

Ada satu milis yang sangat heboh mengenai penggalian bakat diri dalam bidang supranatural. Ada yang melalui penggunakan jimat atau amulet untuk berbagai keperluan, ada yang melalui mantra atau berbagai ritual, mengolah tenaga dalam, hingga menggunakan satu bagian dari sebagian kecil ajaran sebuah agama. Satu hal lagi, ada yang sibuk dengan membanggakan diri dengan kemampuan supranya, mengaku menjadi indigo, serta membuka mata ketiga untuk membuka gerbang kemampuan super lainnya. Dengan berbagai macam alasan, perlukah itu dilakukan?

Memang beberapa manusia terlahir sensitif, tetapi menurutku semua manusia mempunyai kata hati untuk menentukan pilihan dari apa yang ingin dia lakukan dalam hidup. Di luar konteks agama yang ada, menurutku dengan sikap kerja keras, berfikir positif, dan menjalankan semuanya dengan niat yang baik tanpa merugikan orang dan alam sudah cukup bagi manusia untuk menjalani hidupnya.

Penggalian potensi diri perlu dilakukan, tetapi memaksakan diri untuk menjadi sesuatu apalagi yang berbau supranatural akan menguras banyak energi dan materi yang mana semua itu dapat dia gunakan sebagai modal untuk berusaha agar mencapai apa yang dia inginkan.

Lalu ada pertanyaan lain, apa istimewanya diakui menjadi seorang Indigo? Mempunyai tingkat sensitif yang lebih tinggi dari orang pada umumnya juga bukanlah sesuatu hal yang patut dibanggakan jika dia menggunakannya untuk menonjolkan si ‘aku’ tanpa membantu orang lain. Apakah aku mendeskreditkan orang indigo? Tentu tidak, karena aku merasakannya sendiri dan tidak ada yang istimewa dengan itu semua.

Jika diberi kelebihan itu semua secara natural, apakah itu menjadi alasan menjadi istimewa di mata manusia lain? Karena sesungguhnya semua itu sama di hadapan Sang Pencipta, tidak ada keistimewaan bagi orang indigo atau orang yang mempunyai kemampuan supranatural. Dan akan menjadi lebih celaka lagi jika mereka menggunakan itu secara komersial. Dan yang lebih sulitnya lagi, mereka tumbuh subur karena memang mereka dicari orang yang tidak percaya diri dengan apa yang dia punya. Tentunya, ada suppy ada demand. Lalu, bagaimana dengan kebutuhan manusia untuk hidup?

Manusia itu semuanya dikaruniai kemampuan luar biasa untuk menggunakan otak, pikiran dan perasaannya untuk bertahan hidup dan membuat semua apa yang dia butuhkan. Hanya dibutuhkan tekad dan niat untuk berusahalah yang dapat membawa manusia keluar bumi dan menciptakan teknologi lainnya untuk menunjang aktifitas hidupnya.

Walau semua itu kembali ke diri kita sendiri untuk memilih bagaimana menjalani kehidupan di dunia ini, tidak ada salahnya untuk kita lebih mengenal diri sendiri dan lebih bijaksana untuk memilih serta tidak menggunakan apa yang kita punya untuk merugikan orang lain apapun alasannya.